Sekolah, Persoalan dan Solusinya

Masalah umum yang ditemui dalam manajemen sumber daya manusia di sekolah ternyata sebagian besar hampir sama. Persoalan individual, iklim di sekolah, sikap pimpinan dan manajemen, serta dukungan team kerja.

Terbebas dari prilaku penyimpangan ternyata tidak menjamin hal itu tidak terjadi di lembaga pendidikan. Intrik saling menjatuhkan antara sesama guru, guru dengan staf, staf dengan staf, bahkan bisa saja antar pengurus yayasan.

Persoalan individual menjadi PR besar di banyak sekolah. Kemalasan guru dan staf, sering terlambat masuk untuk mengejar, mangkir, tidak bekerja sesuai porsi dan target yang diberikan, pengabaian pada tugas pokok terjadi jamak di banyak sekolah.

Sikap pimpinan yang kurang tegas atau bahkan tidak memiliki wibawa dimata karyawan, adanya dualisme kepemimpinan, tidak adanya dukungan dari team kerja adalah persoalan yang juga turut menghiasi manajemen di berbagai lembaga pendidikan.

“Persoalan diatas memiliki rumusan penyelesaiannya masing-masing “ papar Irsan Husain Direktur Jejak Jemari Institute Lembaga Training dan Manajemen Sekolah. Lembaga yang berdiri sejak 2010 dimana konsentrasinya pada masalah-masalah manajemen sekolah. Lembaga yang telah banyak melakukan training di berbagai daerah baik secara offline ataupun online.

“Rumusan penyelesaian dari persoalan individu, iklim sekolah, sikap kepemimpian dan dukungan team kerja itu memang memiliki treatmen yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, namun ini memiliki sumber yang sama. Apa itu? Lemahnya kepemimpinan organisasi dan lemahnya organisasi dalam membangun visi dan misi nya” lanjut Irsan.

“Perlu dipahami membangun sekolah itu berbeda dengan membangun bisnis pada umum nya. Sekolah yang baik tidak bisa dilihat dari megahnya bagunan tampilan fisik, bagusnya program yang ditawarkan. Sekolah bicara soal hasil, sekolah bicara kualitas, bicara soal keberlanjutan atau yang sering saya sampaikan sekolah itu harus bertumbuh”

“Ibarat bangunan pondasi dasar sebuah sekolah itu harus kokoh, dan harus ada kemimpinan yang kokoh di dalam sebuah sekolah. Harus ada orang yang bisa mengarahkan pandangan semua unsur sekolah ke satu titik pandangan. Memandang pada titik yang sama. Titik itulah yang menjadi tujuan nya. Dari Yayasan, Kepala Sekolah, Staf, Guru, bahkan OB, Keamanan dan ibu kantin pun berfikir dan bergerak yang sama dalam memandang visi dan misi sekolah.”

Artinya tataran masalah kepemimpinan sudah harus selesai terlebih dahulu. Akan berat jika di dalam satu sekolah ada dua matahari. Atau ada dua kepemimpinan. Disinilah dimulainya keberpihakan,timbulnya faksi dari yang kecil sampai yang besar. Tentunya iklim seperti ini tidak akan membawa kebaikan untuk semua pihak. Bukan tradisi yang baik.

Kepercayaan harus dibangun oleh semua unsur sekolah. Kepercayaan Pimpinan pada staf dan guru, begitupun sebalikknya kepercayaan staf dan guru pada pimpinan. Tidak semua hal mampu dijamah oleh kepala sekolah, tidak juga semuanya merupakan tanggungjawab guru.

Malas terkadang merupakan problem individu, namun bisa jadi itu merupakan tradisi yang dibangun oleh lingkungan sekolah nya sendiri. Manajemen sekolah harus mampu membangun sistem yang sehat, dimana mereka mampu menggerakkan semua unsur bekerja dengan semangat. Bagaimana caranya? Bangun sistem dimana seluruh unsur terikat dengan sistem tersebut. Seluruh unsur mampu menunaikan kewajiban dan merasakan adil pada hak yang mereka dapatkan.

Berikutnya adalah sekolah memiliki strategy dan taktik dalam memberikan asupan ilmu pada guru dan staf. Penuhi hak untuk mendapatkan ilmu lewat pelatihan, lewat buku-buku berkualitas, lewat jaringan yang dibangun dengan baik.

Sekolah perlu memperhatikan siapa yang ingin bergabung bersama mereka. Sekolah harus berhati-hati dalam merekrut guru dan staf. Ini harus disesuaikan dengan visi dan misi yang ingin dibangun. Terburu-buru dalam merekrut guru itu akan membawa malapetaka bagi sekolah. Salah merekrut guru membuang banyak energy.

“Hal-hal ini perlu diperhatikan jika kita ingin menerapkan total quality management di sekolah kita” Irsan Husain menutup pembicaraannya.

Jejak Jemari Institute memiliki program khusus dalam manajemen sekolah. Training Manajemen Sekolah yang ditawarkan oleh Jejak Jemari Institute adalah sebuah program In House training yang berdurasi agak panjang, yaitu berlangsung selama 3 bulan pendampingan. Dimana pada program ini Jejak Jemari Institute banyak memberikan aplikasi pada pembenahan manajemen sekolah.

 

Mungkin hanya satu-satunya Training Manajemen Sekolah yang menggunakan aplikasi yang dapat mengawasi kinerja semua unsur yang berada di sebuah sekolah. Menyusun nya menjadi layaknya manajemen perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat