Pentingnya Buku Bagi Anak

Pentingnya Buku Bagi Anak

Terbayang kah dalam benak kita bagaimana kondisi anak – anak kita di tahun 2021?

Yang sudah tentu anak kita hidup di tengah persaingan teman, teknologi, dan tuntutan perubahan dari belahan Negara – Negara.

Kemajuan teknologi membuat peluang pekerjaan menjadi kian sempit, efektifitas tenaga manusia makin meningkat. Lalu bagaimana dengan anak – anak kita? Yang sedari kecil bersekolah? Seperti umumnya para orangtua yang menginginkan anaknya sukses dalam karir dan kehidupannya?

Marilah kita mulai berfikir dan memperbaiki mindset yang ada. Anak-anak kita ini merupakan  generasi masa depan dan mereka lah yang akan menentukan nasib bangsa dan Negara ini ke depan. Kematangan karekter  anak-anak harus mulai dibentuk  sejak awal perkembangannya karena anak – anak yang sedang tumbuh sekarang sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Anak-anak saat ini dituntut untuk menjadi pribadi-pribadi  yang tangguh agar Negara ini terlepas dari tekanan krisis dan persaingan dunia yang tak terbendung. Tugas siapakah ini? Lalu bagaimana menyiapkan anak kita untuk membentuk karakter anak yang hebat, kuat dan mampu bersaing menghadapi tantangan kemajuan? Banyak para ahli psikologi mengatakan karakter anak akan terbentuk dengan baik, jika dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa.

Sudah tidak bisa dielakkan lagi bahwa untuk mengahadapi kehidupan ke depan terlebih pada tahun 2021 dibutuhkan orang – orang dengan kepribadian yang multi talent, cerdas, memiliki keterampilan dalam mencari solusi dan mengatasi masalah, handal dalam berkomunikasi, bersosialisasi dengan baik, punya rasa toleransi dan kepekaan social yang tinggi, berwawasan, pengetahuan luas dan seterusnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang hebat? Sudah tentu kita mulai dari pola asuh, bimbingan, teladan, mengarahkan kemampuan anak sehingga tidak hanya bisa membangun kecerdasan intelektual bahkan dapat membangun kecerdasan spiritual. Yang menjadikannya sebagai pribadi unggul yang memiliki keahlian dan kepekaan social yang tinggi. Buku merupakan salah satu fasilitas yang dapat menumbuhkan hali itu, membaca memenuhi keingintahuan seseorang, masalahnya membaca masih menduduki urutan minat yang rendah. Dan kita menularkannya pada anak-anak kita, padahal dimulai dari memberi buku cerita tipis dan sederhana, tulisannya pendek dan mudah dimengerti oleh anak akan memicu minat baca pada anak terlebih disaat buku tersebut dilengkapi gambar menarik yang menggugah anak-anak agar mau membacanya karena ingin tahu apa isi buku tersebut. Dengan begitu anak akan terbiasa dekat dengan buku.

Hal yang sangat disayangkan menyukai buku masih sangat jarang kita jumpai pada anak-anak bahkan dikalangan pelajar ini masih mengecewakan, membaca di Indonesia dinilai rendah. Membaca buku di kalangan masyarakat, pun belum terlihat sebagai kegiatan yang penting sebagaimana kegiatanan lain seperti menonton ataupun mengobrol. Semangat membaca dan keinginan memiliki sebuah buku sebagai sarana yang bermanfaat bagi pemahaman diri tentang sesuatu, mengetahui nilai-nilai, serta meluasnya wawasan dan cakrawala ilmu masih belum dimiliki, meski ada namun masih sangat minim kederadaannya. Kebanyakan dari pelajar dan masyarakat umumnya kegiatan membaca hanya dilakukan jika perlu saja misalnya membaca buku-buku pelajaran yang memang diwajibkan atau yang termasuk mata kuliah/pelajaran atau membaca buku petunjuk dari suatu barang yang hendak dipergunakannya. Tidak sering di antara mereka membaca buku-buku bacaan yang bersifat pengetahuan umum,atau nilai kehidupan. Rasa ingin tahu yang kurang  menyebabkan kebutuhan membaca menjadi deretan yang kesekian, membeli buku yang pada kenyataannya juga mahal masih menduduki deretan kebutuhan yang dikesampngkan,.kenyataan ini sudah barang tentu berpengaruh terhadap kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.

Di Jepang diberlakukan gerakan “20 Minutes Reading of Mother and Child”.  Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).Kepedulian terhadap buku dan membiasakannya untuk mencintai buku nampaknya harus segera digiatkan oleh semua pihak. Dari mana kita memulainya? mulai membiasakan mencintai buku-buku, tentunya dari sejak usia dini bahkan bisa dimulai ketika anak belum mampu membaca (baca : Menumbuhkan Minat baca Pada Anak, www.jejakjemari.com) usia dini merupakan masa-masa penting yang fondamen untuk menanamkan cinta buku bagi anak-anak, selain secara psikologis pun masa-masa itu memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi.

Kendala terbesar yang dihadapi adalah kurangnya fasilitas pendukung seperti perpustakaan gratis, perputakaan keliling, buku-buku untuk  anak-anak dan sebagainya.

 

Solusi:

Pentingnya menumbuhkan cinta buku pada anak harus sudah disadari dan harus mendapatkan dukungan dari seluruh pihak terutama pemerintah, perusahaan-perusahaan negeri dan swasta dapat bertindak sebagai fasilitator pendidikan yang menyediakan atau menyumbangkan buku-buku dan perpustakaan gratis bagi anak-anak. Setiap tempat public seperti Bank, Kantor Pos, Rumah Sakit dimana tempat seperti itu sering dikunjungi oleh orang dewasa yang disertai anak-anaknya. Tak ayal kita sering mendengar tangisan anak tanda ketidakbetahannya ketika orangtuanya sedang antri, mengapa tempat umum seperti itu tidak dilengkapi dengan ruang baca anak dengan fasilitas buku baca sehingga anak bisa membaca buku sembari menunggu orangtuanya. Hal itu pun bisa mengakrabkan anak dengan buku, di mana tempat yang ia kunjungi selalu ada pemandangan ruang baca buku dengan demikian upaya menigkatkan minat baca ini bukan slogan dan isapan jempol tetapi dapat benar-benar terwujud karena didukung oleh semua pihak dengan sarana yang mendukung pula. Selain itu peran keluarga juga mempunyai peran penting dalam rangka meningkatkan minat baca  anak-anak Indonesia yakni dengan mebiasakan budaya membaca di rumah tentunya juga dengan mengupayakan memiliki perpustakaan mini keluarga. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka Indonesia mengalami kesulitan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.

 

Januari 2010, Arum Irsan

Leave a Reply