MIMPI BESAR MENGGAPAI “GREEN BEHAVIOUR” Peran Metode Montessori Pada Penanaman Ekoliterasi Anak Usia Dini

MIMPI BESAR MENGGAPAI “GREEN BEHAVIOUR” Peran Metode Montessori Pada Penanaman Ekoliterasi Anak Usia Dini

Arum Sariwati

Direktur Jejak Jemari Institute

Isu global abad 21 yang paling mendesak saat ini adalah lingkungan hidup, lingkungan yang tercemar menjadi ancaman kelestarian lingkungan hidup yang menjadi akses utama manusia mencapai kesejahteraannya.

Lingkungan hidup adalah suatu sinergi yang sangat produktif antara alam semesta dan perilaku makhluk yang hidup di dalamnya, jadi bukan hanya tempat tinggal semata. Lingkungan hidup memberi peran penting dalam keberlangsungan makhluk, sehingga mereka dapat hidup dengan damai, sehat dan bahagia. Karena keseluruhan unsur kehidupan seperti pertanian, industri pengolahan alam, perdagangan dan lain-lainnya suatu negara pun tergantung pada kualitas lingkungan hidup.

Dimulai Sejak Dini

Makhluk hidup harus memiliki perilaku yang baik terhadap lingkungannya, ini menjadi prioritas utama yang digalakkan oleh pemegang kebijakan negara dalam berbagai bidang kehidupan terutama pendidikan. Wujud perilaku makhluk hidup dalam menjaga alam semesta tersebut disebut sebagai green behaviour.

Golman & Barlow (2012) menjelaskan bahwa green behaviour adalah perilaku manusia dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup yang berada di lingkungan terdekatnya. Semakin tinggi kesadaran manusia untuk mencintai alam semesta maka semakin besar pula kemungkinan green behaviour terwujud.

Kesadaran seseorang untuk mencintai alam semesta tidak secara instan didapatkan hanya dalam salah satu kegiatan pembelajaran di sekolah atau melalui penyuluhan-penyuluhan singkat  ke masyarakat, Green behaviour harus ditanamkan sedini mungkin pada manusia yakni masa anak-anak, dimulai dari rumah dan sekolahnya. Salah satunya melalui ekoliterasi.

Ekoliterasi adalah kesadaran manusia dalam menjaga dan melestarikan alam. Kesadaran tersebut dapat dimiliki oleh individu melalui proses pembelajaran sepanjang hayat, mulai dari kegiatan bermain yang pada akhirnya akan membentuk pengetahuan, karakter dan keterampilan dalam mengolah serta melestarikan alam. Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Capra (2010) bahwa ekoliterasi adalah kesadaran moral komunitas manusia untuk menghargai komunitas biotik.

Peran manusia terendah dalam ekoliterasi yaitu peduli terhadap isu-isu kritis mengenai lingkungan hidup, peran tertingginya adalah mampu memberikan solusi efektif dan signifikan terhadap masalah lingkungan hidup secara cepat dan tepat, baik di lingkungan tempat tinggal terdekat maupun lingkungan hidup secara global.

Maka dari itu, Pendidikan Anak Usia Dini memiliki peran penting dalam penerapan ekoliterasi yang mencakup keseluruhan sistem pembelajarannya, agar sedari kecil mereka sadar akan pentingnya mencintai alam semesta. Sekolah harus mampu menanamkan ekoliterasi secara konkret pada setiap praktek kegiatan bermain dan belajar.

Ekoliterasi bagi anak usia dini adalah mengenalkan kesadaran anak untuk memelihara dan menjaga lingkungan sekitar dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak. Sehingga pada akhirnya mereka memiliki perilaku cinta pada lingkungan yang diimplementasikan pada kehidupan mereka sehari-hari. Berlandaskan dari pemaparan latar belakang di atas, dalam artikel ini saya akan menjelaskan tentang strategi pengenalan green behaviour untuk anak usia dini melalui ekoliterasi.

Green Behaviour dan Ekoliterasi

Green behaviour adalah perilaku menjaga dan memelihara lingkungan hidup yang dilakukan karena adanya kesadaraan dan rasa tanggung jawab atas kelestarian alam semesta. Seperti yang dijelaskan oleh Keraf (2014) bahwa pada dasarnya manusia mempunyai rasa memiliki dan mencintai alam tempat dirinya hidup sehingga seharusnya manusia mampu belajar berhadapan dengan lingkungannya.

Green behaviour harus mewujud menjadi tindakan yang dilandasi oleh nilai, norma dan kasih sayang terhadap alam semesta. Pola-pola green behaviour dapat dilihat dari perilaku individu sehari-hari seperti memelihara kebersihan diri, lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, mengkonsumsi makanan sehat, menggunakan listrik dan air seperlunya. Sejalan dengan pengertian green behaviour dari Capra (2010) yang menjelaskan bahwa manusia dapat dikatakan sebagai etika manusia dalam memperlakukan lingkungan hidupnya.

Fokus dari green behaviour yaitu kaidah moral manusia dalam menjiwai perilaku cinta terhadap alam semesta. Green behaviour merupakan refleksi dari tanggung jawab serta kepedulian terhadap lingkungan yang harus ada dan dimiliki oleh setiap manusia. Pembentukan karakter manusia terhadap lingkungan berhubungan dengan sikap dan nilai yang bersumber dari pengalaman langsung yang membentuk pengetahuan dan kecenderungan bertindak sehingga green behaviour menjadi sebuah gaya hidup seluruh individu pada abad ini. Green behaviour sebagai gaya hidup akan menciptakan keseimbangan ekosistem yang diharapkan.

Ekoliterasi

Ekoliterasi merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh pendidik Amerika David W.Orr dan fisikawan Fritjof Capra pada tahun 1990 untuk mengenalkan pola hidup ramah terhadap lingkungan sekitar melalui praktik pendidikan nilai. Nilai – nilai yang diberikan adalah nilai tanggung jawab dan cinta pada bumi. Proses ekoliterasi sepanjang hayat itu berawal dengan membentuk kesadaran pada suatu individu tentang pentingnya hidup bersinergi dengan alam semesta.

Hyun (2000) menjelaskan bahwa manusia mempunyai kesadaran akan ekologi namun kesadaran manusia tersebut harus dimunculkan melalui pengetahuan dan pemahaman tentang alam semesta. Tujuannya adalah agar kesadaran tersebut muncul menjadi suatu perilaku yang nampak nyata dalam menjaga bumi tempat dirinya hidup.

Diperkuat lagi oleh Lickona (2013) yang menjelaskan bahwa sesuatu karakter positif berawal dari adanya kesadaran (awareness), pemahaman (understanding), kepedulian (concern) dan komitmen (commitment) menuju tindakan (doing atau acting). Oleh karena itu, keberhasilan penanaman karakter cinta lingkungan sangat bergantung pada seberapa besar kesadaran, pemahaman, kepedulian dan komitmen anak terhadap ekoliterasi pada metode pembelajaran secara konsisten di sekolahnya. Seorang anak tidak dapat memiliki pondasi pemahaman tentang ekoliterasi yang baik jika tidak diterapkan secara konkret dalam setiap kegiatan pembelajarannya.

Pengenalan nilai-nilai cinta lingkungan pada anak usia dini dapat diberikan melalui keteladanan, pembiasaan, dan pengulangan dalam kehidupan sehari-hari. Suasana lingkungan sekolah harus mampu memberikan stimulus ekoliterasi sebagai pondasi  penanaman nilai-nilai cinta lingkungan.

Hal ini sejalan dengan pemaparan dari Kemendikbud (2015) bahwa pengenalan nilai-nilai pada anak usia dini harus diberikan oleh orang dewasa dengan beberapa cara yaitu:

  1. Menyadari bahwa nilai-nilai merupakan dasar segala tingkah laku dan menjadikan diri sebagai teladan utama bagi anak-anak.
  2. Menentukan nilai-nilai yang paling sesuai serta menunjukkan nilai-nilai mana yang harus diutamakan melalui kegiatan dan pengalaman sehari-hari.
  3. Menunjukkan pribadi yang ramah, positif, dan terintegrasi.
  4. Menghadapi anak dengan penuh penghargaan, cinta, dan pengertian.
  5. Meyakini akan nilai-nilai yang paling sesuai untuk dimiliki.
  6. Menciptakan pengalaman yang bernilai dan bermakna bersama anak, kemudian menanyakannya kepada anak tentang bagaimana sebaiknya harus mengambil pilihan atau keputusan.

Metode Pembelajaran Montessori

Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya sampai jenjang pendidikan menengah.

Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan klinis dari guru. Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik.

Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan otodidak (koreksi diri). Alat peraga montessori tidak menggunakan bahan yang terbuat dari plastik, semua bahan sebagian besar terbuat dari kayu yang memiliki kualitas sensor raba dan gradasi karena alat tersebut akan melatih kemampuan berlogika siswa dalam menyelesaikan masalah, memperkenalkan berbagai konsep terutama lingkungan hidup.

Dalam metode montessori setiap anak memiliki kebebasan dalam memilih aktivitas, yang tentu saja telah diatur sedemikian rupa oleh para pendidiknya untuk menumbuhkan kemandirian, kebebasan dan keteraturan. Di masa anak-anak inilah, mereka mempelajari segala sesuatunya melalui aktivitas gerak dan penginderaan, dengan berbagai material yang mengembangkan kekuatan kognitif melalui pengalaman langsung.

Beranjak besar di tingkatan dasar, anak-anak mulai mengatur pikirannya dari hal-hal yang nyata ke arah yang abstrak. Mereka mulai mengaplikasikan pengetahuannya ke pengalaman nyata. Melalui metode pembelajaran montessori, anak disiapkan untuk menghadapi dunia orang dewasa ketika pikiran dan emosi berkembang untuk lebih memahami konsep-konsep yang lebih abstrak mulai dari lingkungan hidupnya.

Bentuk Kegiatan Pembelajaran Metode Montessori dan Hubungannya dengan Ekoliterasi

Pembelajaran Metode Montessori terbagi dalam lima area, diantaranya adalah

Area Practical Life

Kegiatan dalam area ini anak dididik untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Karena area ini sepenuhnya berisi kegiatan psikomotor, maka anak akan selalu bergerak sehingga mengasah kecerdasan motorik dan spasialnya. Dengan memberikan kegiatan practical life akan menumbuhkan rasa cinta pada pekerjaan/kegiatan dan kecintaan anak untuk berperan di lingkungannya, yang ini merupakan pondasi awal yang baik dalam membangun kesadaran ekologi.

Ada 4 jenis kegiatan dalam Practical Life Exercises sebagai pondasi karakter anak yaitu

  1. Development of Motor Skills.
  2. Care of Self,
  3. Care of Enviroment,
  4. Social Grace and Courtesy.

Dalam practical life ini akan mengasah berbagai kecakapan anak seperti :

  1. Memahami pola atau kegiatan yang teratur, meningkatkan kemampuan anak mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari yang akan membantunya dalam mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasarnya.
  2. Karena area ini sepenuhnya berisi kegiatan psikomotor, maka anak akan selalu bergerak sehingga mengasah kecerdasan motorik dan spasialnya.
  3. Jelajah indra. Dalam melakukan kegiatan ini melibatkan mata, suara, bau, sentuhkan bahkan bahasa.
  4. Dengan memberikan kegiatan practical life akan menumbuhkan inisiatif anak untuk terlibat dalam aktivitas sehari-hari.
  5. Menumbuhkan rasa cinta pada pekerjaan/kegiatan. Kegiatan di area ini akan menumbuhkan minat dan kecintaan anak untuk berperan di lingkungannya.

Contoh kegiatannya adalah :

  • Meningkatkan kemampuan merawat dirinya sendiri serta lingkungan sekitar, diantaranya melipat, menyapu, mengelap, mencuci piring dan sebagainya.
  • Meningkatkan kemampuan motorik halus dan kasarnya seperti menyendok, menuang, memindahkan objek, melipat, mengambil dengan capitan dan sebagainya.
  • Meningkatkan kemampuan sosial, seperti mengucap salam, meminta maaf, mengucapkan terimakasih dan sebagainya.

Kesemua kegiatan peningkatan kemampuan diatas dikemas dalam permainan menggunakan alat yang menyerupai aslinya, dengan tahapan dan teknik yang sistematis, terarah dari sederhana ke kompleks.

Melalui kegiatan practical life anak-anak dapat membangun konsep mandiri dalam mengerjakan segala sesuatunya serta mampu membantu teman yang lainnya. Kemandirian dan kepedulian adalah modal dasar Green Behaviour.

Area Sensorial

Aktifitas di area ini di design untuk meningkatkan dan mengembangkan 5 indera (penglihatan pendengaran, penciuman, perabaan dan  perasa). Seluruh aktifitas di area sensorial ini dirancang untuk merangsang seluruh indera yang anak miliki untuk membantu mempersiapkan perkembangan intelektual.

Area sensorial ini adalah area persiapan menuju area yang tingkat kesulitan nya lebih tinggi seperti matematika, bahasa dan area kebudayaan. Seperti area lainnya, alat-alat di area ini dirancang pula dengan control of error yang membantu anak dalam mengecek hasil kerja nya sendiri.

Control of error ini selain membantu anak agar lebih mandiri juga sangat mengurangi fungsi guru sebagai korektor. Pada akhirnya anak akan sangat terbiasa untuk mengandalkan dirinya dalam mengerjakan sesuatu dan membentuk percaya diri dalam menyelesaikan pekerjaannya sehinggga anak akan terlihat lebih teratur melalui kegiatan sensoris dengan alat terbuat dari bahan ramah lingkungan, memiliki kualitas seperti perbedaan warna, bentuk, bau, tekstur, berat, dan ukuran. Contoh kegiatannya adalah permainan pink tower, Broad stairs, red rods, sound boxes dll. Dengan kemampuan indra yang baik, anak mampu mengembangkan kecerdasan dan kepekaan lingkungan sebagai stimulus Ekoliterasi pada diri anak sejak dini.

Area Bahasa

Bahasa adalah fenomena penting dalam kehidupan manusia dan menjadi ciri khusus pada manusia. Bahasa itu dipelajari bukan bawaan lahir. Dengan bahasa, kita bisa mengerti semua benda yang ada di lingkungan dan bisa mengkomunikasikan isi pikiran.

Kegiatan untuk mengasah bahasa berawal dari belajar pengucapan/bunyi, kemudian kata, frase dan kalimat. Cara termudah adalah dengan mengenalkan anak pada berbagai benda di sekitar dan berbagai ungkapan keseharian. Selain itu bisa dengan membacakan buku, puisi, dan saling bercerita serta menyanyi. Kemampuan lain yang akan dicapai dari area ini adalah anak memiliki kemampuan menulis dan membaca serta berbahasa, malaui alat dengan kualitas sensor raba terbuat dari bahan yang juga ramah lingkungan.

Kemampuan bahasa anak terus meningkat seiring meningkatnya stimulus ekoliterasi yang didapatkan di area Practical Life dan Sensorial.

Area Matematika

Mengajarkan konsep matematika pada awal adalah melalui kegiatan yang mengasah indra untuk memahami konsep ukuran, pola dan urutan. Kegiatan dalam area ini dimulai dengan permainan number rods, mengenal angka dan jumlah melalui sensor visual dan perabaan. Kegiatan lainnya dalam area ini adalah permainan biji atau manik satuan, puluhan, ratusan dan ribuan. Kesemuanya membantu anak memiliki konsep konkret matematika, konsep ganjil genap, menjabarkan 4 digit angka. Misal tiga ribu enam ratus dua puluh satu. Konsep konkret ini membantu anak senang dengan tantangan dan mampu memecahkan masalah yang merupakan kekuatan intelektual bagi perkembangan Ekoliterasi anak.

Area Sains dan Budaya

Dalam area budaya selain mengenalkan berbagai budaya dunia juga mengenalkan kearifan lokal dan budaya keluarga. Dalam area sains dan budaya ini dibagi dalam 4 bidang yakni :

  1. Zoology dan Botany

Pendekatan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media model hewan atau tumbuhan yang berbentuk menyerupai aslinya (bukan kartun) dengan menyertakan kartu bergambar. Pembelajaran juga menggunakan sistem klasifikasi sehingga anak mudah mengkategorikan jenisnya, misalnya hewan invertebrate dan avertebrata, hewan peternakan dan hewan buas, klasifikasi daun lewat Leaf Cabinet, dsb. Hewan dan tumbuhan dipelajari siklus hidupnya dan bagian tubuhnya dengan menggunakan puzzle yang berpotongan tepat pada bagian organ tubuh yang akan dipelajari.

  1. Geography

Montessori mengenalkan lanskap bumi kepada anak melalui alat bantu yang utuh. Pendekatan pembelajaran dilakukan melalui globe benua, puzzle peta, nampan relief daratan dan air

  1. History

Anak diajak berkenalan dengan konsep sejarah, jam, dan waktu. Pendekatan pembelajaran bisa menggunakan banyak media DIY yang melambangkan kejadian di masa lampau

  1. Science

Montessori mengenalkan dasar unsur pembentuk alam seperti zat dan energi dalam bentuk udara, air, kemagnetan, gravitasi, bunyi, dan optik dengan menghadirkan benda yang menunjukkan keberadaan unsur tersebut.

Pada prakteknya, area budaya dalam Montessori lebih banyak menggunakan peralatan yang dibuat sendiri dan ada juga yang terbuat dari berbahan kayu dan alam.

Kurikulum Sains dan Budaya Montessori memberi anak-anak peluang untuk menjelajahi dunia yang lebih luas. Sebagai bagian dari eksplorasi yang kaya akan berbagai budaya di dunia, siswa belajar tentang orang, medan, hewan di setiap benua dan lain-lainnya.

Kepedulian lingkungan menjadi penekanan dalam area ini, setiap kegiatannya mengarah pada sikap cinta alam dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga kecerdasan ekologi ini semakin baik, semakin sadar kan pentingnya menjaga lingkungan dengan aksi nyata.

Perilaku menjaga dan memelihara lingkungan hidup yang dilakukan karena adanya kesadaraan dan rasa tanggung jawab atas kelestarian alam semesta. Perilaku ini terus tumbuh dan berkembang melalui kegiatan permainan sepanjang masa, lalu membentuk karakter yang merupakan bagian terpenting dari Green Behaviour.***

Leave a Reply