Mengukur Kualitas Sekolah

Sekolah yang tidak memiliki pembeda antara sekolahnya dengan sekolah yang lain, tidak merasa berat di tahun-tahun awal keberadaannya, yang dihadapi bukan masalah. Tetapi seiring waktu sekolah ini akan mendapatkan kondisi menurunnya respon masyarakat terhadap keberadaannya.

Masyarakat menilai, sama saja sekolah yang baru dengan sekolah yang lain. Tidak ada yang unik. Ini akan berdampak pada banyak hal. Bahkan pada melemahnya tim guru, mulai dari kualitas, sikap, kedisiplinan dan gairah, peningkatan mutu. Apalagi jika sekolah tidak memiliki sistem pengontrolan kualitas yang baik. Lalu sekolah mulai nenyadari kondisi ini setelah beroperasi diatas 5 tahun.

BACA jUGA : KULIAH MONTESSORI ONLINE BATCH 7 BIAYA RP.60.000

TRAINING MONTESSORI OFFLINE

 

Jika sekolah tidak segera berbenah, mengenai cara pedang terhadap persoalan yang ada, maka sekolah akan masuk pada fase tenang. Namun tenang disini berkonotasi negatif.

Di awal bisa saja banyak masukan dan kritik dari orangtua siswa. Lalu karena tidak ada solusi yang signifikan maka lama kelamaan para orangtua akan diam dan menerima saja (ini yang disebut tenang tanpa konflik yang cukup berarti) tapi kondisi ini justru akan melemahkan respon masyarakat terhadap sekokah tersebut.

Masih ingat, siapa yang menjadi mitra utama sekolah dalam peningkatan perkembangan sekolah? Ya, Orangtua siswa! Jika orangtua siswa merasa puas dengan pelayanan yang diterima dari sekolah, maka ia akan menyampaikan pesan kepada orang-orang terdekatnya bahwa sekolah anak mereka bagus..

Respon positif yang harus dibangun pada orangtua siswa. Penilaian kualitas akan datang dari penerima jasa. Bisa dibayangkan jika satu dari orangtua siswa justru mengatakan bahwa sekolah anak mereka kurang bagus kepada orang-orang terdekatnya yang sedang mencari sekolah?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat