Membuka Sekolah Baru

Dipastikan lebih dari setengahnya adalah menyiapkan “persiapan sekolah” itu sendiri. “Marketing begins before product launch” kata Seth Godin seorang pakar marketing dunia. Semua harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum sekolah dibuka.

Tentu bukan hanya persiapan gedung, kursi, guru, admin sekolah saja. Jauh lebih dari itu semua adalah masa depan sekolah itu sendiri, program dengan hasil yang benar terukur dan dapat dibaca oleh orangtua siswa, kepuasan orangtua siswa melihat kemajuan anak-anaknya dengan pelaporan dari sekolah dalam proses belajar yang dikomunikasikan dengan data dan fakta.

Lingkungan dan sarana sekolah yang menarik, mampu memberi stimulus dan bisa diakses oleh siswa itu sendiri sehingga dari lingkungan nya saja bisa membangun kemandirian anak. Namun lingkungan dan sarana seperti itu hanya memenuhi 30% dari keberhasilan sebuah sekolah, 20% nya dari sistem manajemen sekolah, sedangkan program dan proses sekolah itu sendiri mencapai angka persentase signifikan yakni 50%. Sebaik apapun ketiga elemen ini, tanpa didukung oleh jaminan kualitas dengan metode yang tepat, terukur dan teruji maka sulit mencapai target dan mempertahankan kepercayaan orangtua kepada sekolah.

Membuka sekolah baru, dalam pandangan usaha, sama saja anda sedang masuk ke dalam “red ocean strategy”. Red Ocean Strategy adalah kondisi dimana anda bersaing pada pasar yang sama denga para “pesaing”. Maka, anda harus menampilkan diferensiasi sekolah anda dari sekolah-sekolah yang telah ada.

Anda harus bisa menjawab masalah dari sekolah-sekolah yang ada. Kualitas guru yang rendah dan berdampak pada kualitas siswa, komunikasi yang buruk antara sekolah dan orangtua, target yang tidak terpenuhi dari janji-janji manis sekolah, adalah sebagian dari masalah-masalah yang ada.

Anak yang belum terstimulus karakternya, belum mampu bersosialisasi, belum mampu mandiri, belum mampu membaca, menulis, dan berhitung menjadi pemandangan umum di sekolah anak usia dini dan kelas bawah ditingkat Sekolah Dasar hari ini.

Lalu, sekolah anda hadir menggenapi semua kekurangan tersebut? Atau Menjadi sekolah yang sama dengan sekolah yang telah ada? Dimana guru tidak memiliki kepekaan, kepedulian dan kesulitan menemukan solusi dari masalah yang setiap saat seharusnya bisa diobservasinya.

Seharusnya guru hadir sebagai “pengarah” menjadi penghubung antara media belajar dan siswa. Tetapi tidak semua guru siap dengan posisi tersebut karena ternyata selama menjalani masa kependidikannya, tidak pernah mempelajari apa dan bagaimana teknik menguasai kelas, teknik mengatasi problem-problem siswa di kelasnya, guru menjadi tersesat saat masuk kelas. Ini persoalan besar, namun tidak pernah dianggap penting.

Sekolah harus memiliki prioritas dalam hal kualitas SDM nya serta konsisten dengan prosesnya. Memiliki standar “key personal indicator” yang terus dikontrol dalam sistem manajemen sekolah. Banyak sekolah yang mengabaikan hal ini. Mungkin ditahun-tahun pertama sekolah dibuka, tidak ada persoalan dengan jumlah siswa. Namun seiring waktu, bermunculan sekolah-sekolah baru yang lebih menjanjikan orangtua siswa. Maka sekolah baru menyadari permasalahan dan ternyata sudah menggunung. Putaran 4 – 5 tahun adalah waktu yang singkat untuk melihat sekolah sudah tidak dipercaya lagi.

Membuka sekolah baru, membutuhkan banyak referensi. Membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan sehingga memiliki jangkauan yang luas, seperti manajemen bisnis, manajemen sekolah, marketing, digital marketing, penyususnan kurikulum, penyusunan program, leadership, followership, keuangan dan lainnya.

Irsan Husain
Direktur Jejak Jemari Institute
Lembaga Training Dan Manajemen Sekolah
0812 1930 8766

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *