Single Parent

Single parent adalah istilah dari orang tua tunggal yang mengayuh biduk rumah tangganya sendiri tanpa pasangan hidup. Biasanya seseorang menjadi single parent karena dipisahkan oleh perceraian ataupun kematian dari pasangan hidupnya. (Wikipedia)

Hal apa saja yang biasanya dihadapi oleh para single parent ini ? Untuk kasus Indonesia jamak dihadapi para single parent adalah kesulitan untuk bersosialisasi. Selain waktu yang tersita untuk merawat dan mendidik anak-anak seorang diri adalah persolan psikologis yang menjadi daya tekan single parent menghadapi persolannya. Kekhawatiran yang besar akan status dirinya itu akan dihadapi di awal-awal tahun dirinya menjadi single parent.

Bergeser setelah mampu menghadapi persolan psikologis mereka dihadapkan pada kondisi yang lain bahwa pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi hal yang utama dari persoalan lainnya. Kemandirian diuji diantara kurang optimalnya pekerjaan dikarenakan masih disibukkan urusan domestic dipagi hari atau selepas jam kerja.

Perasaan sepi terkadang hadir tiba-tiba ditengah persoalan yang dipaparkan diatas. Tidak adanya pendamping dalam membesarkan si buah hati, dimana harus siap menjadi ibu sekalian menjadi ayah. Bersiap untuk mencari pasangan baru, menyelaraskan dengan anak-anak ini menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi sulit untuk menyelaraskan dan menata hati terhadap mantan suami, menjaga hubungan baik antara anak dan mantan suami. Itu semua butuh waktu dan pemahaman yang mendalam.

Psikolgis anak menjadi pertimbangan saat perceraian terjadi, bagaimana cara menatanya agar dampak buruk tidak melekat pada anak-anak. Perceraian bisa terjadi, hubungan kedua suami istri bisa terpisahkan, tetapi seharusnya tidak ada kendala apapun dengan hubungan orangtua dan anak. Anak tidak perlu dilibatkan dalam persoalan orangtua mereka. Begitupun pihak lainnya seperti kakek, nenek, paman, bibi dan lainnya tidak perlu memberikan gambaran buruk terhadap anak-anak yang orangtua nya serta masuk ke persoalan perceraian yang lebih dalam.

Persoalan tentu akan hadir sebagai konsekuensi. Hanya saja persoalan itu harus dihadapi dengan baik. Mungkin diawali dengan persoalan yang akan menyeret ke permasalahan perasaan. Namun itu tetap harus dihadapi dengan realitas yang ada. Persoalan tetaplah harus dihadapi bukan dengan perasaan.

Single parent banyak yang gagal berhadapan dengan realita di awal-awal perpisahan. Semakin lama semakin tegar, semakin kuat. Tetap saja ini harus dihadapi. Lalu bagaimana dan apa strategy dalam menghadapi persoalan ini ?

Jejak Jemari Institute memiliki materi parenting yang khusus untuk membahas persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh Single Parent. Memberikan solusi secara teksnis mengenai hal-hal yang dihadapi oleh orangtua yang menghadapi persolan perceraian dan penanganan persolan anak-anaknya.

Layanan Konsultasi : 0813 1569 5255

Email : creative.teacher@gdriveku.com

Fan Page Facebook : Training Guru Kreatif Jejak Jemari Institute

www.jejakjemari.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *